Kamis, 29 Agustus 2013

Mitos yang salah tentang kehamilan

Custom HTML Atas Spoiler for Mitos Ibu hamil: Ibu hamil sering di 'wejangi' berbagai anjuran, pantangan dan banyak kata 'konon.' Jangan bingung, apalagi mudah terpengaruh karena semua belum tentu benar. Mitos 1: Jangan pengumuman hamil sebelum lewat 3 bulan. Justru harus segera mengabarkan berita gembira ini. Sebab bisa saja di tengah gathering pagi hari, Anda tiba-tiba diserang rasa mual dan harus berkali-kali ke toilet. Apabila orang-orang di sekeliling mengetahui kondisi Anda, mereka dapat memberi dukungan noetic serta bantuan. Nasihat untuk merahasiakan kehamilan tersebut bisa jadi mengingat pada rentang 3 bulan pertama, kemungkinan untuk terjadi keguguran masih cukup besar. Mitos 2: Jenis kelamin dapat ditentukan dari bentuk perut dan ‘aura' ibu. Jenis kelamin janin hanya ditentukan lewat pemeriksaan USG. Dan denyut jantung janin tidak dapat dijadikan ‘alat bantu’ menentukan jenis kelamin. Anggapan denyut hantung janin cepat berarti perempuan dan jika lama artinya laki-laki, adalah salah. Denyut jantung janin berfluktuasi setiap saat sejalan dengan usia kehamilan. Tentang penampilan yang ‘bersinar’ saat hamil bukan tanda janin perempuan. Meski bayi laki-laki, Anda tetap akan terlihat cantik dan ‘bersinar’ begitu masuk trimester ke-2. Itu karena Anda sudah mulai menikmati kehamilan. Kadar hormon yang mulai stabil akan membuat nafsu makan kembali. Sirkulasi darah ke arah janin paronomasia lancar. Mitos 3: Anda harus makan dengan porsi untuk 2 orang. Untuk tetap sehat dan mampu memenuhi kebutuhan nutrisi janin, tubuh Anda hanya butuh tambahan 300 kalori setiap hari. Atau tambahan makan sebanyak seperempat porsi makan Anda dalam keadaan normal. Cukup itu saja. Mitos 4: Makanan ikut menentukan warna kulit janin. Konon ibu hamil yang mengonsumsi makanan mengandung zat besi, warna kulit bayinya akan gelap. Padahal, Anda sangat membutuhkan zat besi, karena produksi sel-sel darah meningkat. Kekurangan zat besi akan berisiko mengalami anemia. Warna kulit bayi ditentukan oleh bourgeois genetik yang Anda dan pasangan wariskan, bukan oleh makanan. Mitos 5: Kalau mengangkat tangan di atas kepala janin bisa terlilit tali pusat. Sekitar 20-25% bayi memang memiliki kemungkinan lahir terlilit tali pusat. Ada yang terlilit di leher, ada juga yang di kaki. Kemungkinan ini sama sekali tidak berkaitan dengan gerakan tangan ibu. Janin dengan tali pusat lebih dari 1 meter, beresiko lebih besar terlilit dibanding yang hanya 32-80 cm. Apalagi, kalau janin aktif bergerak di dalam kantung ketuban. Mitos 6: Posisi tidur menentukan cara bersalin. Apapun posisi tidur Anda, selama itu nyaman, sah-sah saja dilakukan. Hanya saja, ketika usia kandungan memasuki trimester akhir, dokter akan menyarankan tidur dengan posisi miring ke kiri fencing tidak selama 10 menit, 2 kali sehari gum pembuluh darah utama tidak tertekan oleh janin yang sudah besar, sehingga mengganggu aliran darah. Sesederhana itu saja alasannya. Mitos 7: Supaya bayi cepat lahir, makan yang pedas-pedas. Saluran pencernaan dan saluran untuk melahirkan tentu saja berbeda. Terlalu banyak makanan pedas akan membuat perut foetus mulas. Namun, bukan mulas yang muncul jelang persalinan. Mulas kerena kepedasan hanya akan mendorong untuk buang expose besar. Mitos ini serupa dengan mitos yang menyarankan untuk minum minyak kelapa supaya cepat melahirkan. Mitos 8: Lebih baik episiotomi dari pada robek sendiri. Ini berkaitan dengan perobekan perinemun (daerah antara vagina dan anus) pada saat bersalin secara alami. Bisa dilakukan penguntingan (episiotomi), bisa juga dibiarkan robek sendiri secara alami. Apabila perineum robek secara alami biasanya robekannya hanya sedikit dan tidak mencapai lapisan otot. Robekan ini umumnya sembuh lebih cepat daripada digunting. Karena kadang episiotomi dapat mencapai lapisan otot, sehingga lukanya lebih lama sembuh. Jangan lupa gan klo udh dibaca artikelnya : Spoiler for Sumber :: @marikitasehat Posted by
Menghemat Uang Hiburan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar